-->

Ini Strategi Pemerintah Dalam Genjot Produksi Gula Lokal Meningkatkan Ekonomi

 

Ini Strategi Pemerintah Dalam Genjot Produksi Gula Lokal Meningkatkan Ekonomi

CentriumSquare - Menteri Pertanian Siaher Yassin Limbu mengatakan pihaknya akan berupaya meningkatkan konsumsi produksi gula melalui pola ekspansi dan intensifikasi. Ia menuturkan, saat membajak sawah, ia menanam dan memanen tebu di Desa Basirpungur, Kecamatan Purwadadi, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Ia menjelaskan, apa yang dilakukannya adalah mengikuti instruksi Presiden Joko Widodo kepada jajarannya untuk secepatnya memenuhi kebutuhan gula nasional.

Demikian disampaikan Menteri Pertanian Siharul Yassin Limbu dalam keterangan resminya, Sabtu (30/7).

Dirjen Peternakan Andy Noor Alam Syah mengatakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi gula nasional, pihaknya telah menyiapkan lima strategi. Diantaranya menentukan kesesuaian lahan baru untuk tebu, penggunaan lahan HGU terbengkalai, revitalisasi pabrik gula, investasi pabrik gula baru, peningkatan pola kemitraan antara pabrik gula dan petani tebu.

Andy menambahkan, “Ke depan untuk memenuhi kekurangan 850.000 ton, kami akan mengolah lahan baru seluas 75.000 hektar menggunakan lahan Perhutani atau di lahan kosong Hugo.” Sebagai informasi, produksi gula nasional pada 2021 mencapai 2,35 juta ton, meningkat 10,3 persen dibandingkan produksi 2020 sebesar 2,13 juta ton.

Produksi tersebut berasal dari produksi lokal tebu giling oleh pabrik gula dan dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi gula sebesar 3,2 juta ton, sehingga masih diperlukan tambahan produksi swasembada gula kristal putih sebanyak 850 ribu ton ( GKP).

Mentan menegaskan kelanjutan peningkatan produksi gula nasional

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL) memastikan produksi gula nasional terus meningkat melalui perluasan lahan (ekspansi) dan intensifikasi. Bahkan Kementerian Pertanian berkomitmen memperkuat kiprah jajaran BUMN dalam produksi gula nasional dari hulu hingga hilir.

Menurut Mentan, kebutuhan gula nasional secara umum 7,3 juta ton, konsumsi gula 3,2 juta ton, dan gula industri 4,1 juta ton. Sementara produksi gula nasional saat ini baru 2,35 juta ton. "Oleh karena itu, Presiden meminta agar diambil langkah-langkah untuk mendongkrak konsumsi gula, artinya ada 850.000 ton yang harus disiapkan. Saya ada perintah dengan menteri lain untuk mengurus raton dari tebu dan membongkar ratonnya," katanya.

Mentan menyampaikan bahwa permintaan gula saat ini berpengaruh besar secara tidak langsung terhadap inflasi, dan juga mempengaruhi berbagai gangguan atau pengurangan impor dari negara lain. Karena itu, Kementerian Pertanian akan bekerja sama dengan BUMN dan kementerian lain untuk mempromosikannya dengan cepat. “Pak Presiden berharap dalam waktu dekat ada langkah bersama antara Kementerian Pertanian, BUMN, Perdagangan dan Perindustrian untuk mencoba menyiapkan setidaknya hal yang berbeda untuk mempersiapkan gula nasional dengan baik,” katanya.

“Tadinya menteri BUMN mendapat arahan mulai dari sumber sampai ke hilir, dan menteri-menteri lainnya tentunya sesuai dengan kementerian teknis atau tugas kementerian lainnya untuk memberikan dukungan agar BUMN dapat bergerak lebih cepat. untuk mempromosikan kebutuhan konsumsi gula, dan secara bertahap memasuki gula industri." Mentan menambahkan, masalah pangan menjadi perhatian serius Presiden Jokowi. Pangan merupakan komoditas strategis dalam pembangunan perekonomian nasional.

"Pak Presiden terus memantau masalah pangan seminggu sekali, dan kita bicarakan item per item, varietas, dan beberapa bahan pokok hingga pembahasan dan pengambilan keputusan juga detail secara detail," katanya.